PORTOFOLIO

logo seatrans kecil

Portofolio Kami

Sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, kami mengemban tugas untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas:

  1. Pendidikan
  2. Penelitian
  3. Pengabdian Masyarakat/ Kerjasama

Berikut adalah capaian kami untuk ketiga dharma tersebut:

1. PENDIDIKAN

Bidang Pelayaran (Shipping)

Petikemas Penyimpan Motor pada Kapal Ro-Ro
Desain Konseptual Penggunaan Peti Kemas sebagai Alat Bantu Penyimpanan Sepeda Motor pada Kapal RoRo

Mahasiswa: Irwan Tri Yunianto (4105100033)
Tahun: 2010
Pembimbing: Dr.-Ing. Setyo Nugroho
Bidang: Pelayaran, Desain Konseptual, Inovasi


TA IrwanJumlah sepeda motor yang menggunakan jasa penyeberangan meningkat setiap tahunnya. Rata-rata jumlah produksi sepeda motor di lintasan Merak – Bakauheni meningkatan sebesar 17%, sedangkan di lintasan Ketapang-Gilimanuk meningkat sebesar 13% per tahun. Oleh karena selama ini sepeda motor hanya menempati sebagian kecil dari volume ruang muat geladak kendaraan pada kapal Ro-Ro, maka masih terdapat banyak ruangan kosong di atas sepeda motor. Dengan kondisi tersebut menjadi ide lahirnya inovasi modifikasi peti kemas sebagai alat bantu penyimpanan sepeda motor pada kapal Ro-Ro. Dengan pemanfaatan sisa ruangan ini dapat meningkatkan kapasitas ruang muat khusunya untuk menambah jasa penyeberangan sepeda motor. Dengan mengasumsikan dimensi dan berat sama dengan kendaraan golangan VI pendapatan yang didapat oleh operator kapal dapat meningkat hingga 30%. Selain itu dengan menggunakan peti kemas modifikasi ini dapat meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan bagi pengendara sepeda motor, karena pengendara wajib menempatkan sepeda motor ke dalam peti kemas dan wajib naik ke geladak penumpang.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Depo Petikemas Terapung
Desain Konseptual Depo Terapung Peti Kemas

Mahasiswa: Galilea Prima Khristianto (4105100065)
Tahun: 2010
Pembimbing: Ir. Tri Achmadi, Ph.D.
Bidang: Pelayaran, Desain Konseptual, Inovasi


TA GalileaTingginya tingkat penggunaan lapangan penumpukan peti kemas di area pelabuhan Tanjung Perak tahun 2010 hingga mencapai 85%, menyebabkan PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) mengambil langkah antisipasi dengan membuka lahan baru sebagai tempat penumpukan peti kemas sementara (depo). Disisi lain sudah tidak ada lahan yang tersedia di sekitar area pelabuhan untuk dijadikan sebagai tempat penumpukan peti kemas sementara (depo). Oleh karena itu, tujuan dari tugas akhir ini adalah memberikan alternatif solusi desain konseptual depo terapung peti kemas sebagai upaya mengatasi permasalahan keterbatasan lahan penumpukan peti kemas yang terjadi di daerah sekitar pelabuhan dan menghasilkan Turn Round Time (TRT) kapal yang lebih baik. Hasil analisis menyatakan bahwa penggunaan depo terapung peti kemas dapat meningkatkan TRT kapal menjadi 14% dibandingkan dengan penggunaan depo darat pada kondisi saat ini.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Puskesmas Terapung
Perencanaan Armada dan Pola Operasi Kapal Puskesmas untuk Daerah Kepulauan: Studi Kasus Kepulauan Kangean, Jawa Timur

Mahasiswa: Moh. Siswanto (4106100073)
Tahun: 2010
Pembimbing: I.G.N. Sumanta Buana, S.T., M.Eng.
Bidang: Pelayaran, Perencanaan Armada


Puskesmas terapungPelayanan kesehatan merupakan hal vital bagi masyarakat khususnya yang berdomisili di pulau-pulau kecil di Indonesia. Keberadaan rumah sakit yang berada di pusat kota dirasa kurang efektif untuk menjangkau penduduk di pulau-pulau kecil. Oleh karena itu diperlukan usaha agar penduduk tersebut dapat menikmati fasilitas pelayanan kesehatan meski terkendala oleh keadaan geografis di masing-masing pulau, yaitu dengan penggunaan puskesmas terapung. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan pola operasi kapal puskesmas keliling (pusling) di Kepulauan Kangean. Metode optimisasi yang digunakan adalah tabu search dan Vehicle Routing Problem with Time Windows (VRPTW). Beberapa skenario operasi dikembangkan berdasarkan kapasitas dan jumlah kapal, pembagian wilayah operasi serta anggaran operasional tahunan. Proses optimisasi ini bertujuan untuk memaksimalkan jumlah kunjungan kapal di wilayah operasi (titik demand) dengan batasan anggaran operasional tahunan. Hasil optimisasi menunjukkan bahwa pembagian wilayah kerja menjadi 2 (dua) merupakan skenario operasi yang paling optimal dengan pola operasi kapal 2 (dua) kali per minggu.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Simulasi Angkutan Batubara Berbasis Web
Simulasi Operasi Angkutan Batubara Berbasis Web Programming

Mahasiswa: Jauhari Alafi (4106100045)
Tahun:2012
Pembimbing: Dr.-Ing. Setyo Nugroho dan Firmanto Hadi, S.T., M.Sc.
Bidang: Pelayaran, Teknologi Informasi


TA JauhariIndonesia adalah produsen batubara terbesar di dunia dengan total produksi 350 juta ton di tahun 2011. Dimana Kalimantan menjadi salah satu produsen utama batubara di Indonesia dengan kondisi geografis yang unik, yaitu lokasi tambang terletak di daerah pedalaman sehingga untuk menjangkaunya harus melalui jalur sungai dengan alat angkut tongkang. Kendala yang biasa dialami dalam pengangkutan batubara adalah terjadi pendangkalan sungai Barito saat musim kemarau, sehingga tongkang mengalami kendala operasi. Pada saat hal itu terjadi, sungai yang biasanya dapat dilewati oleh tongkang hingga kapasitas 5.000 ton, harus mengurangi muatannya hingga 2.000 ton agar dapat melewati sungai. Bahkan ketika pada kondisi level air terendah, tongkang tidak bisa beroperasi sama sekali. Oleh karena itu, tugas akhir ini bertujuan untuk merencanakan operasi angkutan batubara saat terjadi kendala surutnya level air sungai dengan metode simulasi berbasis web programming. Hasil simulasi didapatkan bahwa total biaya untuk opsi tidak ada pengangkutan pada saat sungai dangkal adalah sebesar Rp 81 juta, sedangkan total biaya untuk opsi ada pengangkutan pada saat terjadi pendangkalan adalah Rp 55 juta. Skenario terbaik dalam mencapai target penjualan dengan memilih opsi 2, yaitu dengan tetap mengoperasikan tongkang yang ada pada saat terjadi pendangkalan meskipun tongkang tidak dapat berlayar dengan muatan penuh.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Market Package Akuisisi Pasar Pelra
Desain Market Package dan Arsitektur dalam Akuisisi Pasar Pelayaran Rakyat Berbasis Mobile

Mahasiswa: Dwiky Farid Nur Ruci (4413100037)
Tahun: 2017
Pembimbing: Dr.-Ing. Setyo Nugroho dan Ferdhi Zulkarnaen, S.T., M.Sc.
Bidang: Pelayaran, Teknologi Informasi


TA DwikyPelayaran rakyat (Pelra) memiliki peran penting dalam menunjang keberlangsungan transportasi laut di Indonesia. Fleksibilitas dan biaya merupakan keunggulan yang dimiliki oleh kapal Pelra yang hingga saat ini masih mendominasi pelayaran untuk pulau-pulau kecil. Namun, sifat pelayanan barang dan dokumen yang masih dilakukan secara tradisional, maka perlu dilakukan peningkatan kinerja Pelra khususnya pada solusi non-fisik. Oleh karena itu, tugas akhir ini bertujuan untuk merancang Arsitektur ITS Pelra yang meliputi perancangan Arsitektur Organisasi, Arsitektur Fungsi, Komunikasi dan Fisik untuk kemudian menjadi dasar dalam menentukan kerangka arsitektur akuisisi pasar Pelra berbasis mobile. Analisis manfaat-biaya digunakan untuk mengetahui besarnya manfaat yang didapatkan atas penggunaan rancangan Arsitektur ITS. Hasil tugas akhir ini menyebutkan bahwa pemotongan proses perpindahan informasi dapat mengurangi kerugian akibat terjadinya risiko.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Bidang Kepelabuhanan

Simulasi Tata Letak Pelabuhan Curah Kering
Model Optimisasi Tata Letak Pelabuhan Curah Kering dengan Pendekatan Simulasi Diskrit: Studi Kasus Pelabuhan Khusus PT. Petrokimia Gresik

Mahasiswa: Hasan Iqbal Nur (4108100042)
Tahun: 2013
Pembimbing: Firmanto Hadi, S.T., M.Sc.
Bidang: Pelabuhan, Desain Konseptual


TA HasanPelabuhan Petrokimia Gresik merupakan salah satu contoh pelabuhan khusus yang dioperasikan untuk menunjang kegiatan perusahaan (PT. Petrokimia Gresik). Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara peningkatan produksi perusahaan dengan kegiatan operasional di pelabuhan serta membuat model optimisasi tata letak pelabuhan curah kering yang paling optimal. Dalam menentukan model tata letak yang paling optimal dengan pendekatan simulasi diskrit menggunakan software Arena. Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan produksi perusahaan dengan rata-rata 7.7% per tahun, diikuti dengan peningkatan utilitas fasilitas pelabuhan: dermaga (Berth Occupancy Ratio) 2%, gudang (Shed Occupancy Ratio) 1.2% dan lapangan Penumpukan (Yard Occupancy Ratio) 0.6%. Untuk menunjang peningkatan produksi perusahaan, diperlukan penambahan fasilitas pelabuhan dengan memperhatikan tata letak yang optimum. Berdasarkan hasil simulasi dan perhitungan didapatkan tata letak untuk penambahan fasilitas pelabuhan petrokimia Gresik yang optimum, yaitu: dermaga dengan panjang 170 m di sisi utara, gudang berukuran 60 x 48 x 8 m dan lapangan penumpukan berukuran 65 x 50 m dengan jarak 1.600 m dari dermaga.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Konsekuensi Green Port terhadap Biaya Pelabuhan
Analisis Konsekuensi Green Port terhadap Biaya Pelabuhan dan Eksternalitas: Studi Kasus Terminal Teluk Lamong

Mahasiswa: Marizka Agy Roosanti (4110100086)
Tahun: 2015
Pembimbing: Ir. Murdjito, M.Sc.Eng dan Eka Wahyu Ardhi, S.T., M.T.
Bidang: Pelabuhan, Manajemen dan Ekonomi


TA MarizkaTerminal Teluk Lamong akan menjadi terminal multipurpose pertama di Indonesia yang mengaplikasikan konsep ramah lingkungan (Green Port). Konsep ramah lingkungan yang diterapkan adalah penggunaan peralatan bongkar muat elektrik dan fasilitas pelabuhan yang ramah lingkungan dengan sumber daya yang dapat diperbaharui. Dengan konsep ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan, yaitu pengurangan polusi udara akibat emisi yang ditimbulkan dari penggunaan peralatan bongkar muat dan fasilitas pelabuhan. Tujuan dari Tugas Akhir ini adalah menganalisis biaya pelabuhan dan eksternalitas Green Port (Terminal Teluk Lamong) dan NonGreen Port (Terminal Nilam) dari penggunaan container crane, truk dan yard crane. Biaya pelabuhan meliputi investasi, biaya operasional dan biaya perawatan atas peralatan bongkar muat dan fasilitas pelabuhan, sedangkan eksternalitas merupakan biaya emisi yang dihasilkan dari penggunaan peralatan bongkar muat dan fasilitas pelabuhan lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa total biaya pelabuhan Green Port 19% lebih rendah dibanding dengan Non-Green Port.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Pengembangan Pelabuhan Khusus Ternak
Desain Konseptual Pengembangan Pelabuhan Khusus Ternak: Studi Kasus Pelabuhan Kalbut Situbondo

Mahasiswa: Arrazi Rustam (4412100009)
Tahun: 2016
Pembimbing: Christino Boyke SP, S.T., M.T. dan Hasan Iqbal Nur, S.T., M.T.
Bidang: Pelabuhan, Desain Konseptual


TA ArraziSalah satu sentra populasi ternak yang melimpah berada di Pulau Madura khusunya di Pulau Sapudi. Menurut data dari UPP Kalbut Situbondo pengiriman sapi dari Pulau Sapudi tiap minggunya sekitar 60-70 ekor, sedangkan pada saat hari raya kurban naik hingga 100 ekor/minggu. Namun aktivitas bongkar muat ternak di Pelabuhan Kalbut dilakukan dengan cara dilempar ke laut, sehingga menyebabkan ternak terluka bahkan mengalami penyusutan berat badan. Pengembangan pelabuhan menjadi salah satu opsi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara pembangunan ataupun penambahan fasilitas bongkar muat. Terdapat 3 (tiga) alternatif pengembangan pelabuhan yaitu (1) pembangunan dermaga beton, (2) pengerukan disertai dengan penambahan truk dan garbarata untuk hewan ternak dan (3) pembangunan dermaga apung HDPE dan 2 (dua) breasting dolphin. Hasil analisis menunjukkan bahwa alternatif pembangunan dermaga apung HDPE dan breasting dolphin merupakan solusi pengembangan yang bisa diterapkan karena menghasilkan minimum total biaya dan ramah lingkungan.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Terminal Petikemas untuk Inland Waterway
Desain Konseptual Terminal Peti Kemas Inland Access Waterway: Studi Kasus Sungai Cikarang Bekasi Laut

Mahasiswa: Immanuel Marwan Farma (4411100032)
Tahun: 2016
Pembimbing: Christino Boyke SP, S.T., M.T. dan Hasan Iqbal Nur, S.T., M.T.
Bidang: Pelabuhan, Desain Konseptual


Cikarang terletak pada posisi strategis di Kawasan Industri Jababeka pada pusat kawasan manufaktur terbesar di Jawa Barat, yang menjadi Kawasan Industri baik perusahaan multinasional maupun usaha kecil dan menengah (UKM). Kegiatan logistik berimbas terhadap kegiatan transportasi di daerah Jakarta dan Jawa Barat, khususnya kawasan industri Cikarang, sehingga dari tahun ke tahun terjadi kepadatan jalan di DKI Jakarta, khususnya pada jalur Pelabuhan Tanjung Priok menuju Cikarang. Volume lalu lintas harian rata-rata di Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada 2016 lebih dari 200.000 kendaraan/hari di jalan utama, yang diluar kapasitasnya yakni 126.000 kendaraan/hari untuk 6 (enam) jalur. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk menganalisis potensi sungai Cikarang Bekasi Laut dan perencanaan pembangunan kebutuhan fasilitas dengan desain konseptual Terminal Peti Kemas serta investasi pembangunan Inland Access Waterway. Perbandingkan investasi antar skenario dilakukan untuk memperoleh nilai investasi minimum dengan menyesuaikan kebutuhan dermaga dan fasilitas lainnya terhadap jumlah peti kemas yang akan dilayani. Hasil analisis menunjukkan bahwa dermaga pier yang terpilih dengan panjang 757,46 meter untuk 8 (delapan) tambatan dan fasilitas lainnya berupa truck crane (8 unit) , reach stacker (18 unit) dan luas lapangan penumpukan 17.556 m2.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Bidang Logistik Maritim

Indikator Logistik Wilayah Kepulauan
Pengembangan Indikator Logistik untuk Wilayah Kepulauan

Mahasiswa: Agsari Aulia Pamudji (4107100073)
Tahun: 2012
Pembimbing: Ir. Tri Achmadi, Ph.D.
Bidang: Logistik Maritim


TA AgsariIndonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas pulau-pulau besar dan beberapa gugusan pulau kecil sehingga dituntut untuk memiliki sistem logistik yang efisien dan efektif. Publikasi World Bank tentang Indeks Kinerja Logistik (LPI) tahun 2010 menempatkan Indonesia pada urutan 75 dari 155 negara. Hasil LPI ini kurang mencerminkan kondisi Indonesia yang berupa kepulauan, sehingga perlu dibuat suatu kajian ulang mengenai penyusunan indeks logistik yang sesuai dengan karakteristik Indonesia. Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengetahui indikator yang mencerminkan kondisi kepulauan di Indonesia dan untuk mengetahui cara mengukur indeks kinerja logistik. Jumlah indikator kinerja logistik yang ditentukan adalah 5 (lima) indikator dengan memperhatikan beberapa faktor, yaitu Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bounded dan Continuously Improvement. Wilayah yang dijadikan sampel dalam Tugas Akhir ini adalah Surabaya, Jakarta, Makassar, Kepulauan Nusa Tenggara Timur, dan Kepulauan Maluku. Pengukuran indeks kinerja logistik dilakukan dengan membuat model matematika yang berisi kerangka penyusunan indeks dan pembobotan indikator yang dilakukan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Data yang digunakan sebagai input adalah data operasional kapal, pelabuhan, tarif, data survei kuesioner dan wawancara. Data tersebut kemudian diujikan dalam model matematis sehingga menghasilkan indeks dari masing-masing kepulauan, yaitu Kepulauan Maluku =2.85, Kepulauan Nusa Tenggara Timur =2.78, dan Makassar = 2.95.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Manajemen Rantai Pasok Angkutan Susu dan Produk Turunannya
Manajemen Rantai Pasok Angkutan Susu Sapi dan Produk Turunannya melalui Jalur Transportasi Laut: Studi Kasus Peternakan Sapi Perah Pasuruan

Mahasiswa: Ade Junifar (4110100069)
Tahun: 2015
Pembimbing: Firmanto Hadi, S.T., M.Sc. dan Irwan Tri Yunianto, S.T., M.T.
Bidang: Logistik Maritim


TA Ade JunifarPengembangan distribusi merupakan hal penting dalam mendukung pembangunan ketahanan pangan, terutama distribusi di daerah-daerah yang memiliki kebutuhan akan suatu pangan tertentu. Melihat potensi maritim yang dimiliki Negara Indonesia, distribusi pangan dapat dikembangkan dengan menggunakan transportasi laut. Salah satu jenis pangan yang banyak dibutuhkan untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah susu. Selain karena sehat, susu juga mempunyai banyak produk turunannya seperti keju dan yogurt yang juga memiliki kandungan gizi yang penting. Manajemen Rantai Pasok melalui jalur laut dilakukan pada dua sektor, yaitu sektor hulu (Inbound) dari koperasi susu sampai dengan pabrik pengolah, dan sektor hilir (Outbound) dari pabrik pengolah sampai dengan pasar. Opsi pengiriman dilakukan dengan menggunakan 3 (tiga) alat angkut, yaitu reefer container, reefer tank container untuk sektor hulu, dengan opsi pengiriman melalui jasa EMKL dan Perusahaan Pelayaran, dan sektor hilir hanya menggunakan peti kemas 20 ft dengan opsi pengiriman yang sama. Dengan menggunakan jalur laut, pihak koperasi memiliki keuntungan yang lebih besar, yaitu dengan memakai opsi peti kemas 40 ft, dengan jasa Perusahaan Pelayaran. Sedangkan pihak pabrik pengolah lebih menguntungkan dengan memakai jasa Perusahaan Pelayaran untuk rute Surabaya dan Denpasar.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Manajemen Rantai Pasok Angkutan Ayam Beku
Model Transportasi Laut untuk Mendukung Manajemen Rantai Pasok: Studi Kasus Komoditas Ayam Beku dari Surabaya ke Indonesia Timur

Mahasiswa: Fitroh Annur Isnantoyo (4411100013)
Tahun: 2016
Pembimbing: Firmanto Hadi, S.T., M.Sc. dan Achmad Mustakim, S.T., M.T., M.B.A.
Bidang: Logistik Maritim


TA FitrohDaging ayam merupakan salah satu jenis pangan yang dibutuhkan untuk konsumsi masyarakat Indonesia. Dalam perdagangan daging ayam di Indonesia, harga daging ayam di wilayah Indonesia Timur dapat mencapai dua kali lipat dari harga daging ayam di Surabaya. Proses pengiriman ayam beku dari Surabaya ke wilayah Indonesia Timur, yakni Ambon, Sorong, Nabire, dan Jayapura dilakukan dengan kemasan peti kemas berpendingin (reefer container) ukuran 20 feet melalui beberapa pelabuhan domestik seperti pelabuhan Ambon, Makassar, Sorong, Manokwari, Bau-Bau dan akan menuju di pelabuhan tujuan. Biaya pengiriman yang cukup mahal berakibat pada harga jual ayam beku yang mempengaruhi nilai jual di pasar wilayah Indonesia Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rute terbaik dalam proses pengiriman ayam beku dari Surabaya ke wilayah Indonesia Timur berdasarkan kriteria biaya dan waktu pengiriman yang minimum. Salah satu variabel yang penting untuk diperhatikan adalah tarif pelayaran dan waktu transit muatan di pelabuhan yang akan berpengaruh terhadap total biaya pengiriman. Penggunaan metode optimasi dengan minimum unit biaya sebagai kriteria utama memberikan solusi pemilihan rute pengiriman beserta moda transportasi yang optimal untuk masing-masing tujuan.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


CIF vs FOB pada Komoditi Ekspor CPO
Analisis Penerapan Cost Insurance and Freight (CIF) pada Komiditi Ekspor Indonesia: Studi Kasus Komoditi Crude Palm Oil (CPO)

Mahasiswa: Raysa Adilia Benarto (4412100042)
Tahun: 2016
Pembimbing: Firmanto Hadi, S.T., M.Sc. dan Siti Dwi Lazuardi, S.T., M.Sc.
Bidang: Logistik Maritim


TA RaysaGuna mengatasi neraca perdagangan Indonesia yang cenderung defisit, Pemerintah Indonesia mengambil insiatif untuk mengubah penggunaan Incoterms dalam transaksi ekspor yang saat ini mayoritas menggunakan FOB (Free On Board) menjadi CIF (Cost, Insurance and Freight) sehingga dapat meningkatkan peran armada nasional. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan penggunaan FOB dengan CIF dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan peran armada nasional dalam rangka mendukung penerapan kebijakan CIF untuk ekspor CPO Indonesia. Studi kasus pada analisis perbandingan FOB dan CIF adalah ekspor CPO dari Pelabuhan Selabak, Kalimantan Selatan menuju Pelabuhan Klang, Malaysia dengan kapal chemical tanker 2,952 DWT dengan muatan 2,686 ton CPO. Hasil analisis menunjukkan bahwa biaya total pada FOB lebih rendah daripada CIF karena perbedaan freight sebesar 7% atau 1.94 US$/ton.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Perbandingan Antar Moda Distribusi Sapi
Analisis Perbandingan Antar Moda Distribusi Sapi: Studi Kasus Nusa Tenggara Timur – Jakarta

Mahasiswa: Silvia Dewi Kumalasari (4412100012)
Tahun: 2016
Pembimbing: Hasan Iqbal Nur, S.T., M.T. dan Pratiwi Wuryaningrum, S.T., M.T.
Bidang: Logistik Maritim


TA ViviDaging sapi merupakan komoditi daging utama di Indonesia. Salah satu daerah dengan konsumsi daging sapi tertinggi yakni DKI Jakarta, dimana dalam pemenuhan kebutuhan daging dipasok oleh pemasok sapi Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun kondisi pengiriman sapi dari NTT – Jakarta tidak sesuai dengan animal welfare, sehingga dioperasikan kapal ternak berkapasitas 500 ekor dengan tujuan untuk menurunkan harga daging sapi di Jakarta. Dalam pengoperasiannya kapal tersebut pada pengiriman kedua dan ketiga kapal tidak bermuatan dikarenakan pemilik sapi lebih memilih menggunakan pengiriman cara lama. Sehingga perlu dilakukan analisis perbandingan distribusi sapi rute NTT – Jakarta dengan pengiriman cara lama dan dengan moda kapal ternak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui moda terpilih pengiriman sapi beserta pola operasinya dari NTT – Jakarta berdasarkan 3 (tiga) aspek yakni unit biaya pengiriman, waktu pengiriman dari peternakan hingga rumah pemotongan hewan, dan, produksi daging sapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi dan optimisasi. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan pola operasi port to port yakni Larantuka – Jakarta dan Waingapu – Jakarta, serta pola operasi multiport yakni Tenau Kupang – Ende – Jakarta dan Maumere – Labuan Bajo – Jakarta. Dengan jumlah armada total yang dibutuhkan selama satu tahun yakni 52 armada dengan kapasitas 500 ekor per armada.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


2. PENELITIAN

Bidang Pelayaran (Shipping)

iStow
iStow

Peneliti: Dr.-Ing. Setyo Nugroho dan Tim

Tahun: 2005 – Sekarang
Bidang: Pelayaran, Teknologi Informasi


iStow adalah perangkat lunak (software) semi otomatis untuk perencanaan penataan muatan (stowage planning). iStow untuk kapal peti kemas telah diimplementasikan pada PT Samudera Shipping Services – Jakarta, salah satu anak perusahaan dari PT Samudera Indonesia Group, Tbk.

Berikut adalah fitur yang terdapat pada iStow:

  • Perencanaan kolaboratif
  • Perhitungan kekuatan dan stabilitas kapal otomatis
  • Pembuatan dokumen otomatis
  • Seamless integration
  • Multi-OS

Beberapa variasi dari iStow yang telah diimplementasikan:

  • iStow-Container Ship
    • iStow untuk penataan peti kemas pada kapal peti kemas
  • iStow-RoRo Ship
    • iStow untuk penataan kendaraan, truk dan peralatan berat pada kapal Ro-Ro maupun LCT. Dalam proses pengerjaan iStow jenis ini bekerjasama dengan PT Pelayaran Banyuwangi Sejati.
  • iStow-Cargo Handling Simulator (CHS)
    • iStow untuk pelatihan dan pendidikan maritim, lebih diperuntukan untuk pembelajaran bagi awak kapal (ABK). Terdapat 2 (dua) jenis versi yaitu (1) untuk trainer mencakup designing training scenarios, trainee monitoring and control, assessment; dan (2) untuk peserta pelatihan mencakup simultaneous & collaborative planning, automatic stability calculation and automatic document produce. iStow jenis ini hasil kerjasama dengan Semarang Growth Center (SGC).

Variasi lain dari iStow yang sedang dalam pengerjaan adalah sebagai berikut:

  • iStow-Bulker untuk penataan muatan pada kapal curah kering
  • iStow-Tanker untuk penataan muatan pada kapal curah cair

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Bidang Kepelabuhanan
Bidang Logistik Maritim

Voyage Estimator
Voyage Estimator

Peneliti: Dr.-Ing. Setyo Nugroho dan Tim

Tahun: 2014
Bidang: Logistik, Teknologi Informasi


Voyage estimator adalah perangkat lunak (software) untuk mengestimasi besaran biaya pelayaran kapal. Hasil dari perangkat lunak ini dapat berupa rencana pelayaran (voyage plan) atau evaluasi pelayaran (voyage evaluation). Voyage estimator ini hasil kerjasama dengan PT Samudera Shipping Services – Jakarta, salah satu anak perusahaan dari PT Samudera Indonesia Group, Tbk.

Berikut adalah fitur yang terdapat pada Voyage Estimator:

  • Laporan yang mencakup:
    • Perhitungan biaya pelayaran kapal (voyage calculation)
    • Perbandingan biaya pelayaran kapal
    • Analisis sensitivitas
    • Estimasi gross-profit
  • Multi-pelabuhan & multi-mata uang
  • Detail hasil perhitungan
  • Term of Shipment (TOS)
  • Perhitungan estimasi biaya otomatis

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


3. KERJASAMA

Bidang Pelayaran (Shipping)

Freight Calculator Angkutan Batubara
Freight Calculator Angkutan Batubara

Tahun: 2016
Bidang: Pelayaran


freight calculatorPT. PLN (Persero) sebagai badan usaha milik negara yang bertanggung jawab dalam penyediaan tenaga listrik nasional dituntut untuk dapat menjaga terjaminnya ketersediaan pasokan listrik seiring dengan kebutuhan listrik nasional yang semakin meningkat. Persoalan utama dalam upaya untuk menjaga ketersediaan pasokan listrik nasional adalah menjaga kelangsungan penyediaan energi primernya. Salah satu upayanya yaitu dengan memperbanyak pembangkit listrik dengan menggunakan energi primer yang masih cukup banyak cadangannya dan harga yang relatif murah yaitu batubara. Oleh karena kebutuhan batubara sebagai energi primer bagi PLTU adalah mutlak dan dibutuhkan jasa transportasi untuk mengangkut batubara dari lokasi tambang ke lokasi PLTU, maka komponen biaya transportasi (freight cost) batubara menjadi salah satu faktor yang harus menjadi pertimbangan bagi PT. PLN (Persero) dalam proses pengadaan batubara.

Tujuan pelaksanaan studi ini adalah untuk mendapatkan standarisasi (formulasi) cara perhitungan dan penetapan biaya-biaya dalam komponen ongkos angkut (freight) batubara secara akademik (berdasarkan teori yang berlaku) sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi transportasi batubara. Output dari studi ini mencakup penentuan besaran freight untuk angkutan batubara dengan menggunakan 3 (tiga) alternatif alat angkut yaitu Tongkang (Barge), Kapal (Vessel) dan SPB (Self-Propelled Barge).

Hasil dari perhitungan freight rate menunjukan bahwa semakin besar ukuran (kapasitas) alat angkut menghasilkan unit biaya yang rendah, namun belum tentu alat angkut tersebut adalah yang paling efisien digunakan, hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain: a) batasan kedalaman perairan pelabuhan, b) batasan kondisi gelombang dan c) batasan jumlah muatan yang akan diangkut.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Bidang Kepelabuhanan

Studi Kinerja Operasional Jetty Calciner Dumai
Studi Kinerja Operasional Jetty Calciner Dumai

Tahun: 2014
Bidang: Pelabuhan


Adanya kerjasama PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit II Dumai dengan Partner dari Tiongkok yang bermaksud untuk mengaktifkan kembali pengolaan Calcined Petroleum Coke (CPC) melalui fasilitas Horizontal Rotary Kiln dengan kapasitas 300.000 ton yang telah berhenti beroperasi sejak tahun 1994 karena mengalami kerusakan. Untuk dapat memproduksi CPC tersebut diperlukan bahan baku GPC (High Sulphur Contents) yang harus didatangkan dari tempat lain (Import). Import GPC tersebut akan menggunakan Jetty No. 4 dari sebelumnya hanya untuk fasilitas loading produk yang akan diekspor, menjadi fasilitas loading produk untuk ekspor dan unloading produk import untuk bahan baku blending Coke. Oleh karena itu PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit II Dumai berkerjasama dengan ITS (Departemen Teknik Transportasi Laut untuk melakukan studi mengenai dampak perubahan operasional dermaga Jetty No. 4 baik dari aspek parasarana cargo handling-nya ataupun dari aspek Berth Occupancy Ratio (BOR) dermaganya dengan adanya perubahan peruntukan pada Jetty No. 4 tersebut.

Lingkup analisis studi yang dilakukan meliputi:

  1. Studi literatur operasional pelabuhan
  2. Identifikasi kondisi eksisting melalui kegiatan survei
  3. Analisis kinerja operasional jetty
  4. Pembuatan model simulasi operasional jetty

Hasil model simulasi  menunjukan bahwa nilai BOR akibat perubahan pola operasional masih berada dibawah batas BOR maksimum (<80%) sehingga tidak diperlukan Penambahan Dermaga. Sedangkan analisis sensitivitas menunjukan Nilai BOR melebihi batas maksimum (>80%) ketika Produksi GPC-RU II sebesar 420,000 TPA, dan seluruh kapal yang datang 10,000 DWT disertai dengan penurunan kecepatan B/M sebesar -40%.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.


Bidang Logistik Maritim

Evaluasi Perubahan FOB ke CIF pada Komoditi Ekspor Indonesia
Evaluasi Perubahan FOB ke CIF pada Komoditi Ekspor Indonesia

Tahun: 2016
Bidang: Logistik


FOB vs CIFKementerian Perdagangan RI dengan dukungan World Bank berupaya merancang kebijakan baru untuk meningkatkan peran serta perusahaan nasional guna meningkatkan perekonomian Indonesia. Opsi kebijakan penggunaan CIF (Cost, Insurance and Freight) pada aktivitas ekspor dan FOB (Free on Board) pada aktivitas impor dipandang akan dapat mewujudkan harapan ini dengan hipotesis bahwa kebijakan tersebut dapat meningkatkan peranan perusahaan pelayaran, freight forwarder dan asuransi nasional. Untuk mengetahui peluang penerapan opsi kebijakan tersebut, World Bank telah menunjuk ITS (Jurusan Transportasi Laut) untuk melakukan studi evaluasi perubahan Term of Delivery (ToD) ekspor dari FOB ke CIF dengan studi kasus pada 4 (empat) komoditas ekspor yaitu kelapa sawit (CPO), batubara, karet dan udang. Alasan mengapa komoditas tersebut dipilih karena mewakili 66% dari total volume ekspor Indonesia di tahun 2015. Adapun permasalahan utama dalam studi ini yaitu:

  • Apakah kebijakan perubahan term perdagangan ekspor dari FOB ke CIF untuk komoditas utama ekspor Indonesia mungkin dilakukan?
  • Apakah kebijakan tersebut akan memberikan keuntungan bagi perekonomian Indonesia?

Berdasarkan hasil analisis, dari ke-4 komoditas ekspor utama, CPO dan batubara memiliki peluang untuk dapat diangkut dengan kapal berbendera Indonesia, karena market share tinggi (high bargaining position untuk eksportir Indonesia). Jika hal ini diimplementasikan maka akan ada potensi pengurangan defisit pada jasa transportasi sebesar 37,15%. Perubahan term untuk komoditas ekspor dari FOB ke CIF bukan berarti harus menggunakan kapal berbendera Indonesia. Eksportir tetap dapat menggunakan kapal asing, namun hal tersebut tidak dapat mengurangi defisit atas jasa transportasi barang ekspor di Indonesia.

Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di sini.